Indonesia Logistics Performance Index 2018

Halooo semuanya, selamat datang kembali di blog aku!! Sekarang aku mau menjelaskan laporan dari Worldbank mengenai Logistics Performance Index ( LPI ) 2018 Indonesia. LPI nerupakan indeks kinerja logistik negara-negara di dunia yang dirilis oleh Bank Dunia per dua tahun sekali. Terdapat 160 negara yang masuk dalam penilaian tersebut, termasuk negara kita yaitu Indonesia. Survei untuk meghitung skor LPI sudah dilakukan 6 kali, yaitu tahun 2007, 2010, 2012, 2014, 2016, dan 2018, pada blog ini kita akan fokus dalam tahun 2012-2018. Skor LPI memiliki skala dari terendah yaitu nol sampai lima,

Skor internasional menggunakan enam (6) dimensi utama untuk tolak ukur kinerja negara dan juga yang menampilkan keseluruhan indeks LPI. Kinerja logistik adalah rata-rata tertimbang dari skor negara pada enam dimensi utama :
  1. Effeciency of the clearance process ( Efisiensi dalam proses izin ). Indikator customs menunjukan seberapa besar efisiensi customs ( kepabeanan ) dan pemeriksaan perbatasan (border control)
  2. Quality of trade and transport related to infrastructure. Indikator yang menunjukann kualitas  infrastruktur perdagangan dan transportasi
  3. Ease of arranging competitively priced shipments. Biasa disebut international shipments merupakan indikator  kemudahan mengatur pengiriman dengan harga bersaing 
  4. Competence and quality of logistics services. Seberapa tinggi kompetensi atau kualitas layanan logistik.
  5. Ability to track and trace consignments. Menunjukan kemampuan untuk melacak dan mengetahui jejak kiriman
  6. Timeliness of shipments in reaching destination within the scheduled or expected delivery time Menunjukan frekuensi ketepatan waktu pengiriman dalam mencapai tujuan dalam waktu yang dijadwalkan atau yang diharapkan.

  • Perbandingan LPI 2012 - 2018

Perbandingan 6 dimensi LPI Indonesia tahun 2012-2018
Apabila melihat skor LPI Indonesia dalam waktu 2012-2018 terlihat bahwa terjadi peningkatan dalam score keseluruhan yaitu 2,94 pada tahun 2012, meningkat menjadi 3,08 pada tahun 2014, lalu menurun pada tahun 2016 menjadi 2,98 dan meningkat kembali di tahun 2018 menjadi 3,15 yang merupakan pencapaian terbaik Indonesia.
Dilihat dari indikator LPI, semua indikator dalam jangka waktu 2012-2018 mengalami peningkatan skor atau perbaikan kerja. Peningkatan kinerja logistik tertinggi jatuh pada indikator infrastruktur meningkat sebesar 0,36. Disusul indikator: International shipments (0,26), Logistics competence and quality (0,25), Tracking and tracing (0,18), Custom (0,14) dan Timeliness (0,06).

Jika dibandingkan dengan negara Jerman yang memiliki skor total LPI tertinggi pada tahun 2018 yaitu 4,20 ( Ranking 1 dari 160 negara ), maka Indonesia bisa belajar dalam hal indikator customs (skor : 4,09) , Infrastructure (skor : 4,37), Logistics competence (skor : 4,31) yang memiliki ranking dan skor tertinggi.
Untuk indikator International shipments dan timeliness, Indonesia dapat mengacu kepada Belgium karena memiliki ranking dan skor tertinggi yaitu 3,99 ( International shipments ) dan skor 4,41 (Timeliness). Semetara untuk indikator Tracking and tracing Indonesia dapat mengacu kepada Finaland yang mendapatkan skor dan rangking tertinggi yaitu 4,32.

Meskipun di tahun 2018 Indonesia sudah berhasil naik 17 peringkat dibanding dengan penilaian tahun sebelumnya, diantara negara-negara berpenghasilan menengah kebawah dan berskala ekonomi besar, Indonesia sebenarnya masih berada dibawah negara Asia yang tergolong sejenis seperti India dengan peringkat 44 dan skor 3,18. Sedangkan dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia masih berada di atas Indonesia, masing masing berada di peringkat 32, 39 dan 41.


  • Permasalahan Logistik di Indonesia
How logistics works

Bagi kalangan industri, permasalahan yang muncul terkait dengan logistik adalah biaya logistik dan waktu kirim. Faktor-faktor lain penyebab tingginya biaya logistik antara lain :

  1. Teknologi informasi dan komunikasi yang kurang mendukung dalam proses pemantauan arus barang antar wilayah yang berpotensi meningkatkan biaya
  2. Sarana yang mahal dalam hal pengadaan alat angkut truk dan kapal laut ( pajak dan suku bunga tinggi )
  3. Regulasi logistik yang tidak terpadu: tumpang tindih peraturan pusat-daerah, maraknya pungutan resmi di daerah
  4. Kompetensi SDM logistik yang rendah
  • Competence and quality of services logistics 
Competence and quality of logistics services

Ditahun 2018, dimensi competence and quality of services logistics  Indonesia memiliki skor 3,10. Terlihat sangat jauh dibanding negara tetangga yaitu malaysia dengan skor 3,30. Mengapa skor Indonesia masih terlampaui oleh negara lain ?
Secara umum apa yang diinginkan dalam competence and quality of services logistics terdiri dari:
~ Right quality : mutu yang tepat
~ Riqht quantity : jumlah yang tepat
~ Right time : di waktu yang tepat
~ Right place : di tempat yang tepat
~ Right impression : kesan/impreesi yang tepat
~ Right price : harga yang tepat
~ Right information : informasi yang tepat

Untuk memperbaiki competence and quality of services logistics ada beberapahal yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Stock availability, hal ini mengacu pada kemampuan untuk menyediakan produk kapanpun pelanggan merasa membutuhkannya
2. Lead time service, yaitu waktu dari pemesanan oleh pelanggan maupun supplier sampai bisa dikirim, Ini mencakup waktu sejak menerima pesanan, permintaan pengangkutan, pick-up, shipping dan perngiriman akhir
3. Layanan jaminan mutu produk, hal ini mengacu pada jaminan bahwa produk yang diterima tidak mengalami kerusakan dan penurunan kualitas
4. Layanan akuat, yaitu sesuai atau tidaknya produk yang diterima pelanggan
5. Layanan pengolahan logistik, mengacu pada layanan dititik pengiriman. seperti : slip pemesanan khusus, pemasangan label harga
6. Layanan informasi, hal ini mencakup layanan call centre, cargo tracking, manejemen data pengiriman dll

Menurut saya, pelayanan dalam logistik di Indonesia masih harus dikembangkan. Muncul nya rasa tidak puas terhadap pelayanan logistik yang paling utama adalah biaya yang mahal, waktu yang lama dan barang mengalami kerusakan dan penurunan kualitas. Hal ini bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, termasuk dengan negara-negara lain yang masih memiliki skor dibawah 3,15


  • Saran perbaikan 

Faktor utama yang menyebabkan rendahnya kinerja logistik di Indonesia adalah masih rendahnya dukungan infrastruktur. Meskipun skor infrastruktur merupakan skor tertinggi dalam penilaian LPI, namun infrastruktur Indonesia masih belum memadai, baik dari segi kualitas atau kuantitas diantaranya belum ada hub port, infrastruktur logistik nasional belum dikelola secara intergrasi, efektif dan efisien. Hal ini menyebabkan belum efektifnya intermodal transportasi dan interkoneksi antara infrastruktur pelabuhan, pergudangan transportasi. Pemerintah harus segera mengatur manajemen transportasi multimoda . Masih rendahnya kualitas dan kuantitas infrastruktur transportasi yang ada dapat memperlambat waktu pengiriman. hal ini tentu saja dapat menurunkan indeks logistik yang ada, khususnya dari sektor infrastruktur. Peningkatan peringkat LPI diharapkan dapat menurunkan biaya logistik secara signifikan. Hal ini dapat menurunkan harga produk, sehingga dapat meningkatkan daya saing produk dan daya saing masyarakat.
Ketidak efisienan pengurusan dokumen kepabeanan dinilai menjadi persoalan utama yang harus diselesaikan pemerintah. Pemprosesan pengurusan dokumen kepabeanan terbukti membuat proses pengiriman logistik berjalan cepat. Selain itu dalam hal track and trace juga harus diperhatikan untuk kepuasan konsumen, suatu barang berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya sebelum sampai di tangan konsumen. Untuk melacak logistik secara efektif saat bergerak dari manufaktur, penyimpanan dan proses pengiriman tanpa kesalahan entri data harus menggunakan teknologi yang dimanfaatkan seperti RFID, barcode dsb.
Namun selain hal hal tersebut, pemerintah harus melakukan perbaikan logistik dilakukan secara terencana dalam bentuk (master plan), mencakup program dan langkah-langkah yang disusun secara sistematis berdasarkan kondisi dan permasalahan yang ada untuk memperbaiki dan meningkatkan sistem logistik Indonesia. Sistem logistik di indonesia sudah cukup baik, namun cukup baik saja tidak cukup. Indonesia butuh para ahli dalam menangani dan mengelola sistem logistik di negara ini. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang betul betul paham mengenai seluk-beluk logistik agar sistem logistik di Indonesia dapat setara atau bahkan jauh lebih unggul dibanding negara negara lain. #SalamLogistician🙋


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paramita College Life

Forklift